Wednesday, March 12, 2008

MOTOR BARU AHM


Ini lanjutan berita di bawah. Betul, ternyata Astra Honda Motor melansir motor baru berkapasitas mesin 125 cc yang basisnya dari Honda Sonic 125 Thailand. Di sini, AHM meretouch tampilan dengan memadukan unsur bebek dan sport. Makanya, dinamakan crossover motorcycle. Bagaikan evolusi, wajah motor anyar AHM ini dari depan bergaya sport yang sosoknya persis CBR 150, sementara di belakang bebek Honda Revo. Serunya, motor yang konon bakal menyandang nama City ini (bisa City sport, City Cruiser, City Urban dan lainnya), diklaim memiliki power layaknya motor sport. "Yah, bebek jantan dengan tenaga yang dahsyat!" tutur Johannes Loman pada penulis di acara lauching New Revo.
Kabarnya, motor baru ini bakal dilaunching awal April. Sedang harganya, berkisar antara Rp 16-17 juta (dikutip dari OTOMOTIF).
Informasi lain, mesin motor ini model tegak, SOHC, masih karburator, pakai pendingin radiator. Paling sip, indikatornya sudah full digital yang terlihat sangat atraktif dan modis. Bisa dibilang, teknologi tersendiri di dunia motor dalam negeri.
Uniknya, tangki bensin tetap di balik jok. Sementara di bagian depan ada boks tempat penyimpan kunci yang dikamuflase layaknya tangki bensin pada motor sport.
Akankah motor ini membantu AHM mendongkrak penjualannya?
Kita tunggu saja sampai launching..

Thursday, March 6, 2008

Crossover motorcycle ala AHM


Istilah crossover, tentu tak cuma berlaku di dunia audio atau mobil. Di motor pun begitu. Ini sudah terjadi beberapa tahun lalu. Contoh Yamaha Nouvo. Ini bisa dikatakan crossover motorcycle. Karena memadukan dua buah tipe motor jadi satu. Yakni bebek dan skuter. Maksudnya, tampilannya bebek, tapi menggunakan sistem transmisi skuter yang CVT. Nampaknya, tren ini akan terus berkembang. Karena sebentar lagi, PT Astra Honda Motor (AHM) pun bakal melansir crossover motorcycle untuk produk anyarnya. Bakal dijual awal April. Yakni, tampilannya memadukan dua jenis motor; sport dan bebek. Mungkin bisa saja disebut bebek sport. Sebab dari depan, tampilannya sport. Tenaga yang dihasilkan juga sangat besar, layaknya motor laki. Sementara di bagian belakangnya, masih konstruksi bebek. Nah, motor barunya AHM ini, menggunakan mesin bebek Sonic 125 cc yang sudah disempurnakan. Sementara desainnya, murni racikan desainer mereka. Dengan begitu, AHM pun keluar dari patron yang selama ini dikenal ATPM peracik bebek saja. Tapi sudah mampu melahirkan kelas baru. SElain itu, racikan gres AHM ini juga tak ada di negara lain seperti Thailand atau Jepang. Karena umumnya, ATPM motor di sini kalau mau bikin motor, pasti bekerja sama dengan negara2 lain. Makanya, beberapa tipe bisa saja sama dengan negara lain, hanya beda nama saja. Contoh Honda Vario di Thailand di sebut Click, Suzuki Skywave di sini, di Thailand Hayate dan lainnya.
Kembali ke crossover motorcycle AHM ini, posisinya ada di tengah-tengah, antara bebek berkapasitas 125 cc dan sport 150-200. Artinya, kelas baru. "Ini pilihan baru buat motormania yang pengen punya bebek, tapi rasa sport. Baik dari sosok, juga tenaga!" ujar Johannes Loman, direktur pemasaran PT AHM saat peluncuran New Revo (facelift).
Nah, crossover motorcycle ini, bisa jadi merupakan bagian strategi AHM untuk kembali menguasai pasar motor di tanah air, setelah beberapa waktu sempat disalip Yamaha dalam penjualannya. Apalagi ke depannya - masih tahun 2008 ini - AHM akan banyak merilis motor baru, setidaknya ada 5-8 unit (baik itu desain baru atau hanya facelift). Terbukti, amunisi pertama mulai ditembakkan, yakni dengan meluncurkan Revo facelift. "Karena umur Revo sudah hampir setahun (April 2007-Maret 2008), perlu ada pencerahan," kata Loman sedikit diplomatis. "Penjualannya juga cukup tinggi, lo. Januari 2008 saja, data AISI mencatatkan total penjualan 54.611 unit. Ini sudah mengungguli Vega R yang membukukan penjualan 41.092 unit dan Smash 21.344."
Crossover motorcycle jadi senjata ampuh untuk meraih pasar. "Ini sekaligus menjawab keinginan motormania dan Hondamania di tanah air, kalo kita juga bisa berinovasi," tawa Loman.
Cuma ya itu, sayangnya karena masih proyek rahasia, crossover motorcycle yang belum punya nama ini (masih dirahasiakan), belum bisa dimunculkan fotonya. Tapi paling tidak, ciri-cirinya sudah ketahuan. Menurut informasi yang didapat penulis, gacoan AHM ini bermesin 125 cc, 4 tak, silinder tunggal, pendingin radiator, hi-tech (bisa saja sudah injeksi), batok depannya kayak CBR 150 (dua lampu utama), bodi belakang kayak Sonic Thailand (jok bertingkat), lampu belakang dan sein depan belakang ala Vario. di tengah ada punuknya (tangki tipuan). Entah buat apa. Karena tangkinya sebenarnya ada di balik jok. "Mungkin buat naruh barang!" duga informan penulis. Setang kayak tanduk di Piaggio X9, indikator digital, dobel rem cakram, knalpot generasi Honda supra, behel belakang punya Tiger Revo. "Lo kalo liat motor ini, meski diam, akan kelihatan bergerak. Karena desainnya benar-benar menyiratkan motor kencang. Itu juga direfleksikan lewat tarikan2 desain yang tajam,," papar informan saya lagi.
Ngomong-ngomong, mungkinkah crossover motorcycle ini bisa diterima pasar dengan baik? Kayaknya kita perlu waktu...

Monday, February 11, 2008

AKIBAT TERLALU PEDE SISTEM

Minggu siang, 10 Februari, aku harus pergi ke rumah orangtuaku di kawasan Karawaci, Tangerang. Tapi sebelumnya, karena memang butuh uang untuk bikin pemakaman Ibu, harus mengambil uang dulu di Bank BCA tempat aku dan istriku menabung. Kami sudah ngecak, kira-kira apa saja yang akan dilakukan di ATM BCA nanti. Selain mengambil uang sebesar Rp 700 ribu, juga transfer ke NISP sebesar Rp 1,5 juta untuk pembayaran kredit kendaraan kami.
Tepat jam 12-an mobil APV kami, dari rumah di daerah Ciledug, Tangerang, sudah meluncur ke arah Joglo. Tujuannya, ATM BCA Interkon. Karena di sini kami anggap paling aman bertransaksi dan praktis. Artinya, selain sudah kenal dengan orang-orang sekitar, termasuk tukang parkir, juga mempermudah perjalanan kami ke arah Tangerang tadi. Meski sebenarnya kami bisa saja langsung dari rumah ke daerah Meruya dan bablas ke tol Tangerang lewat pintu tol di depan Puri Mal yang memang dibuka untuk umum, tanpa penjaga.
“Jangan lupa, slipnya dibawa, Mas!” pesan istriku begitu sampai di ATM BCA Interkon. Pesan yang sama tiap kali aku akan mengambil uang atau sekadar transfer di ATM BCA. Maklum, istri dan mungkin ibu-ibu lain pun, bukti slip bank ini sangat penting untuk mengatur keuangan alias money flow dalam rumah tangga.
Aku hanya mengangguk, meninggalkan mobil yang masih menyala diparkir dekat mesin ATM. Istri dan anakku menunggu di sana.
Kulihat, mesin ATM sepi pengunjung. Saat kumasuk dan bersiap transaksi pun masih sepi. Tapi beberapa menit kemudian ada seorang bapak dengan putrinya yang masuk juga untuk bertransaksi di mesin ATM satunya lagi. Sebelum memasukkan kartu ATM ke slotnya, aku sempat melirik ke samping kiri bapak yang tadi. Maklum, anaknya begitu ramai dan memainkan tong sampah yang ada di tengah mesin ATM.
Sadar kuperhatikan, sambil senyum si bapak itu berujar, bernada melarang, “Ayo Kayla, jangan berisik. Tuh, mengganggu Om-nya!”
Aku membalas senyumnya. Dan tampaknya, si anak pun mengerti. Ia berkeser ke kiri menjauhiku dan sembunyi di balik badan bapaknya. Aku pun melanjutkan transaksi. Tapi aku agak kaget juga, karena waktu kartu kumasukkan ke slot, langsung dilepehin lagi, tanpa tertera pentintah apa pun. Lho, kenapa sih. Kok ditolak? Gumamku. Ah, mungkin tadi mesinnya belum siap! Aku pun memasukkan ulang kartuku yang tadi sempat kutarik dari slot mesin. Betul aja. Kali ini mulai muncul perintah untuk memasukkan sandi alias PIN kartuku. Seperti biasa, dengan sigap aku ketik angka-angka pasword yang sudah hafal di luar kepala.
Aku pun mulai bertransaksi. Ketak ketik sana-sini, yakni transfer uang dulu sebenar 1,5 juta ke bank NISP. Proses pun lancar dan mudah. Itu makanya, aku lebih suka menabung di BCA. Karena serba digampangkan. Alhasil, aku pun pede, ini bank yang paling aman. Sehingga gak perlu cek-cek pun pasti (harusnya) benar.
Transaksi berikutnya menarik uang tunai. Karena memang di layar tak tersedia angka yang kumaiu, aku memencet tombol penarikan dengan jumlah tertentu. Langsung saja kuketik 700.000. Enggak lama, duit nongol, dari lubang pengambilan. Masih baru dan lempeng-lempeng. Setelah sebentar mencium bau uang itu (ini kebiasaan ndesoku kalo ngeliat duit baru dan masih lurus), langsung kumasukkan uang itu ke dompet. Transaksi pun selesai. Malah untuk memastikan, setelah slip transaksi muncul dan kartu ATM aku simpan kembali, aku masih menunggu perintah di layar komputer mesin. Ini juga kebiasaanku. Walau tak jarang sering diplototi orang yang sudah antre mau transaksi di mesin itu juga, hehehe... emang gue pikirin.
Setelah dirasa aman, baru deh aku naik mobil lagi. Tanpa curiga dan masih terlampau pede dengan kinerja yang bagus, aku enggak ngitung-ngitung lagi duit yang aku ambil. Sebaliknya, aku langsung meninggalkan lokasi ATM menuju Tangerang. Di tengah perjalanan, tepatnya di daerah Kebon Jeruk, aku mampir ke toko kue. Membeli beberapa kue untuk saudara di Tangerang. Dengan uang 100 ribu dari 700 ribu yang aku ambil tadi di ATM, dibayarlah kue itu sekitar 50 ribu. Artinya kembalian 50 ribu.
“Cuma selembar kok, Pak!” kata si penjual kue. Dia melihat sebelum aku ngasihin duit cepekan itu, sempat ngecek berulang-ulang sambil dikebet-kebet. Karena masih baru itu, aku takut lembarannya nempel.
Aku tertawa. “Yah... mastiin aja Mas. Takut kalo-kalo lebih, hehe..,” balasku. Si penjual kue ikutan ketawa sambil ngasihin pesanan kueku dan uang kembalian.
Selesai itu, aku langsung tancap gas lagi ke Tangerang. Tapi sebelumnya, karena istri bilang lapar, kami pun mampir ke tukang bakso langganan. Maklum, meski kios bakso ini kecil, tapi banyak pelanggan. Sebab baksonya enak banget. Mas Siswanto, penjualnya bilang sih, bakso ini asli, dia yang bikin sama istrinya. Tanpa campuran borak, atau zat berbahaya lainnya.
Sekitar setengah jam, kami makan bakso. Setelah itu, kami to be continue ke Tangerang. Artinya, enggak mampir-mampir lagi ke manapun atau beli ini dan itu. Praktis, transaksi jajan atau ngeluarin duit hari itu sudah enggak ada lagi. Kecuali membayar uang bikin pemakaman Ibuku.
“Berapa, nih?” tanya kakak perempuan pertamaku yang memang ditugaskan bikin pemakaman Ibuku itu saat menerima uang dariku. Sekali lagi, dia menghitung uang yang kuberikan. “Gopek, ya?”
Aku mengangguk. “Coba cek lagi. Jangan-jangan lebih,” pintaku bernada guyon.
Ternyata betul, emang cuma gopek alias 500 ribu. Tapi, yang aku bingung, kenapa di dompet enggak ada duit tersisa? Padahal, kan tadi ngabil 700 ribu. Seratus buat jajan, seharusnya sisa 100 ribu lagi.
Penarasan, aku pun melihat prin-prinan slip ATM tadi. Dan oh lala... ternyata, di situ sudah tercetak 700 ribu.
“Lho, piye toh Mas... Tadi emang gak diitung dulu!” istriku agak kaget waktu aku bilang, kalo ternyata duitnya emang yang dikeluarin mesin ATM kurang 100. Karena aku yakin banget, hari itu enggak ngeluarin duit lagi selain jajan kue dan bakso. Tuyul? Enggak mungkilah, wong dompetku aja susah ngebukanya.
“Itu tuh, kalo kelewat pede. Ngambil duit enggak pernah diitung lagi!” cerocos biniku mulai bawel. Padahal yang hilang cuma 100 ribu. Enggak jutaan atau miliaran rupiah, kayak yang dialami pemerintah akibat dicolongin koruptor.
“Bukan soal 100 ribunya. Tapi kalo yang ngilit (ngambil) Bank, ya gak rela aja!” sungut istriku waktu aku bilang total segitu kecil lah. “Kalo pun mau nyumbang 100 ribu, kan harusnya enggak ke bank. Tapi mending ke yatim piatu kek, keluarga miskin kek.....!”
Istriku bener juga. Bank kan gudangnya duit, ngapain saya nyumbang. Toh, dari bunga-bunga nasabah dan lainnya, kan udah banyak. “Lha, trus piye?” tanyaku sembari menampakkan muka bingung.
“Piye.. piye... ya klaim dong, Mas. Masak diem aja!” ketus istriku.
“Lha gimana mau klaim, jeng. Wong di slip udah tertera segitu, kok!” kataku gemas, sembari nyubit pipinya. Berharap, dia enggak marah. Lagian, dari kasus yang sudah-sudah, mo klaim kayak apapun, kalo di slip sudah tertera segitu, ya segitu. Karena aku pernah ingat kasus serupa yang dialami Robi, temanku, ya nasibnya seperti itu. Udah klaim butuh waktu panjang, pake adu otot, tetap gak ada hasilnya. Malah, waktu itu temanku harus kehilangan duit 500 ribu. Dan lebih parah, di slip sudah tertera ngambil duit 500 ribu, eh duitnya gak nongol. Capek dehhhhh..
Jadi, menurutku, nasib yang kualami masih lebih untung dari temanku itu. Toh, cuma seratus rebu. Tapi kalo keseringan, ya ngejengkelin juga sih. “Udah deh, kalo di slip tertera begitu, trus duitnya gak keluar, pasrahin sama Allah aja. Kalo masih rezeki balik, ya kalo enggak udah anggap aja buang sial!” skeptis temanku waktu itu. Karena ujung-ujungnya dari kasus yang temanku alami itu, dia tetap disalahin. Kata orang bank yang waktu itu jawab, “Kenapa enggak dihitung lagi atau langsung klaim?”
Ya, itulah. Kayaknya, konsumen selalu kalah dengan hal seperti ini. Artinya, selalu ada klausul karet yang bikin kita lemah. Lagian, kalo pun kita hitung dan ternyata kurang, lalu saat itu juga klaim, tetap aja prosesnya bak ular naga atau cokelat coki-coki. Panjang dan laamaaaaaaaaaaa....
Tapi dalam hal ini, yang aku sesalkan saat mengalami kejadian ini: nggak ngitung lagi duit yang aku ambil. Ternyata keyakinan akan sistem yang bagus belum tentu selalu menjamin keakuratan selamanya. Apalagi, yang kita adepin mesin. Harusnya sih, pihak bank gak terlalu pede juga, kalo mesin itu enggak bisa salah. Wong dia diprogram manusia juga, kok. Ya, kemungkinan eror atau korup juga ada, toh.
Di akhir cerita, dari pengalaman ini, aku sama seperti yang lain, Cuma bisa berujar, Untung cuma seratus rebu. Coba kalo lebih, huh... bisa aku congkel tuh mesin ATM. Sambil tereak... woyyyyyyy... kembaliin duit gue, kurang cepek ceng. Tapi, yang terpenting adalah, kita antisipasi dulu deh. Jangan over pede akan sistem yang sekali dua kali membuat kita puas, lantas lalai mengecek lagi. Dari pada sewot berikutnya, kan?

Thursday, January 24, 2008

KALO POLISI TIDUR DAH GAK MEMPAN


Warga di negeri ini, mungkin udah bete dengan yang namanya ngebut di seputar kompleks rumah. Karena enggak siang, enggak malem, seenaknya aja motoris-motoris yang gak kenal tepo selero ini membesut motornya. Apalagi kalo motornya udah dituneing ala balap. Sengaja ngaja ngegeber grip gas. Huh.. rasa-rasanya pengen nyolek pake belati aja, kan?
Ups.. tenang, jangan mati akal. Kalo polisi tidur udah enggak mempan, kayaknya trik bule-bule bisa di tiru nih. Mereka membuat stiker tiga dimensi bergambar jalan rusak. Kalo dari jauh, jalan seolah-olah ancur. Otomatis mereka akan ngerem motornya. Padahal mah, itu tipuan. Rasanya sih, ini efektif buat mengantisipasi motor lewat yang suka seenak udelnya itu, lo.
Cuma ya itu, mungkin stiker ini berlaku buat yang jarang lewat atau enggak tahu jalan kompleks rumah Anda. Kalo sering lewat dan udah tau ditipu pakai stiker begitu, pasti balik lagi ke kelakuan yang dulu. Nah, sekarang tinggal gimana Anda dan penghuni lain pinter-pinter deh, mengatur komposis stiker jalan ancur tipuan itu.

TVS RTR 160 LAUNCHING FEBRUARI 2008


Sejak kehadirannya di Tanaha Air tahun lalu, pendatang baru; TVS, sepak terjangnya cenderung lamban kalo dibanding pesaingnya yang sama-sama dari India; Bajaj. Bisa jadi, pabrikan yang satu ini punya strategi-strategi tersendiri untuk merebut hati konsumen motor yang belakangan makin kayak konde ibu-ibu. Kusyutttt and padet, bow..
Namun tampkanya, tahun ini, TVS akan mulai melancarkan aksi-aksi serangannya. Di antaranya, setelah memantapkan penjualan bebeknya TVS Neo (di beberapa daerah pulau Jawa dan di luar Jawa), sebentar lagi akan merilis Apache RTR 160. Besutan tipe sport berkapasitas 160 cc yang akan dipasangkan menandingi kekuatan Honda Mega Pro 160.
Menurut kabar dari pihak yang bertanggung jawab di TVS, Apache akan dilaunching awal Februari ini. Kisaran harganya bersaing dengan Mega Pro atau sekitar Rp 17-18 jutaan. Maklum, biasanya produk pesaing akan memasang harga yang lebih menggiurkan. Seperti dilakukan Bajaj dalam mengobrak-abrik pasar lokal, kan?
Meski begitu fitur yang ditawarkan Apache cukup menggoda. Misal, tampilan sporty. Mulai pelek racing, cakram depan model kembang, spidometer digital dan lainnya. Sedang mesin model over squarenya; bore x stroke (62 x 52,9 mm), mampu menghasilkan tenaga maksimum 11,19 KW (15,2 dk) pada 8.500 rpm dengan torsi maksimum 13,1 Nm pada 6.000 rpm.
Motor sport India berkapasitas 160 cc ini, sempat dipamerin di ajang Jakarta Fair 2007. “Karena Neo sudah cukup dikenal, kami pun mulai yakin bisa mengenalkan tipe lain. Ya seperti Apache ini,” kata K Vijaya Kumar, director sales & marketing PT TVS Motor Company Indonesia pada penulis. “Permintaan konsumen juga cukup tinggi, saat di PRJ!”
Mampukan RTX ini menyaingi ketangguhan Mega Pro?

Mesin : 4 Stroke, 159.7 cc, Single
Max Power : 11.19 KW (15.2 bhp) @ 8500 rpm
Max Torsi : 13.1 Nm @ 6000 rpm
Bore x Stroke : 62 mm x 52.9 mm
Rasio kompresi : 9.5:1
Karburator : Mikuni BS-26
Katup : 2 katup, kem tunggal
Katup/silinder : 2 Valves
Power to weight ratio : 111.76 bhp / ton
Starter : Electric & Kick Start
Putaran mesin idle : 1.400 rpm
Pengapian : IDI-Dual mode digital ignition
Kapasitas oli : 1000 ml
Kopling : Basah, multi pelat
Gigi primer : 65/21
Gigi final : 44/13

Rangka tipe : Double Cradle
Suspensi depan : Teleskopil, langkah 105 mm
Suspensi belakang : Monotube Inverted Gas filled shox (MIG) dengan pegas
Sudut kemudi : 25.5°
Rem depan : 270 mm Petal Disc
Rem belakang : 130 mm teromol
Pelek depan-belakang : TVS 1.85 x 17” dan 2.15 x 18”
Ban depan belakang : TVS 90/90 x 17” dan 100/80 x 18”
Kapasitas tengki : 16.0 liter (2 liter cadangan)
Panjang : 2.020 mm
Lebar : 730 mm
Tinggi : 1.050 mm
Sumbu roda : 1.300 mm
Tinggi jok : 790 mm
Ground clearance : 180 mm
Berat : 136 kg
Akselerasi : 0-60 km/jam 4.80 detik
0-100 km/jam 17.69 detik
0-100 meter 7.91 detik
0-400 meter 19.70 detik
30-80 k,/jam (gigi 4): 11.84 detik
30-80 km/jam (gigi 5): 15.68 detik
Kecepatan maksimum : 118 km/jam

BAJAJ 200 DTS-i


Kabar asyik buat motormania yang niat ganti motor sport, beli baru atau malah nambah koleksi kuda besi di rumah. Karena sekarang ada tawaran baru lagi dari PT Bajaj Auto Indonesia (BAI). Setelah sukses menjual tipe Pulsar 180 DTS-i, beberapa waktu lalu (21/1), diperkenalkan lagi untuk tipe yang 200 cc. Namanya tetap Pulsar dan pake embel-embel DTS-i.
Secara tampilan, emang so-so dengan kakaknya yang terdahulu. Hanya saja, produk yang di pasar dalam negeri bakal head to head dengan Honda Tiger 200 Revolution ini ini menawarkan beragam fitur yang lebih yahud. Selain kapasitas mesin lebih gede, dari panel indikator digitalnyua menawarkan petunjuk saringan udara. Kalo sudah mulai kotor, akan nyala.
Lainnya, pakai pendingin udara oli, ban gede dengan paduan lengan ayun oval. Sehingga mampu memantapkan manuver-manuver radikal. Harga on the roadnya juga Cuma 20 jeti. Artinya beda 3 jeti dibanding 180 cc. Posisi setang lebih rendah dikolaborasi desain tangki lebih sporty ber-air fin kayak Tiger, Pulsar 200 membuat terkesan sporty abis.
“Yup, ini memang untuk pasar anak muda. Karena dari riding posision, juga beda dibanding 180 cc,” kata K.S Grihapathy, presiden director BAI saat acara pelucuran. Apalagi, jok juga sekarang sudah model dobel, enggak seperti tipe lama yang masih menyatu. Kalo dari harga, untuk motor sport, rasanya Pulsar 200 bisa jadi pilihan buat motormania muda.
Pulsar 200 juga menawarkan empat warna pilihan; hitam, biru, merah dan silver. Dari tes yang dilakukan tabloid Otomotif, akselerasinya tercatat 4,50 detik (0-60 km/jam), 7,22 detik (0-80 km/jam), 7,49 detik (0-100 km/jam) dan 11, 54 detik (0-201 meter). Secara keseluruhan, disimpulkan tenaganya lumayan oke kok, untuk perjalanan jarak jauh. Kenapa?
Karena power Pulsar ini baru akan terasa di putaran menengah ke atas. Tenaganya enggak habis-habis, bahkan cenderung menggelegak (6 ribuan RPM). Sementara untuk putaran bawah, agak kurang responsif. Selain itu, radius putarnya terlalu pendek, sehingga agak merepotkan, apalagi buat yang baru pakai jenis sport, pakai nyelip atau belok tiba-tiba agak repot.

Data spesfikasi:
PULSAR 180 DTS-i PULSAR 200 DTS-i
Tipe mesin 4-Tak, 1 silinder, SOHC 4-Tak, 1 silinder, SOHC
Sistem pendingin Udara Udara + oil cooled
Volume silinder 178.6 cc 198,8 cc
Bore x Stroke 63,5 x 56,4 mm 67,0 x 56,4 mm
Rasio kompresi 9,5 : 1 9,5 ± 0,5 : 1
Tenaga maksimum 16,29 dk di 8.000 rpm 17,77 dk
Torsi maksimum 15.22 Nm pada 6.000 rpm 17,17 Nm
Sistem pengapian Digital CDI (mikroprosesor) Digital CDI (mikroprosesor)
Transmisi 5-speed/1-N-2-3-4-5 5-speed/1-N-2-3-4-5
Starter Kick + electric Electric
Sistem knalpot Exhaust TEC Exhaust TEC
Digital control Tidak Ya
Suspensi depan Teleskopik (135 mm) Teleskopik (130 mm)
Suspensi belakang Swing arm, sokbreker ganda Swing arm, sokbreker ganda
Sistm sok belakang NitroXShockers NitroXShockers
Rem depan Cakram hidrolik, 240 mm Cakram hidrolik, 260 mm
Belakang Tromol, 130 mm Tromol, 130 mm
Jenis pelek/ukuran Racing & jari-jari/17" Racing/17"
Ban Depan Ban dalam, 2.75x17, 41 P Tubeless, 90/90x17, 49 P
Belakang Ban dalam, 100/90-17, 55 P Tubeless, 120/80-17, 61 P
Sistem Kelistrikan 12 V (AC + DC) 12 V (AC+DC)
Aki 12 V 19Ah - Tipe MF 12 V 19Ah - Tipe MF
Dimensi P x L x T 1.990 x 750 x 1.090 mm 2.035 x 750 x 1.165 mm
Jarak sumbu roda 1.320 mm 1.350 mm
Jarak ke tanah 165 mm (minimum) 165 mm (minimum)
Berat kosong 143 kg 145 kg
Bahan bakar Bensin tanpa timbal Bensin tanpa timbal
Kapasitas tangki 15 L (3.2 L cadangan) 15 L (3.2 L cadangan)
Lampu belakang LED LED
Model jok Singel Terpisah
Harga OTR Rp 17 juta (CW) Rp 20 juta

Note: dicomot dari Otomotif edisi 38

Thursday, January 17, 2008